Benarkah dengan sebuah perjalanan kita bisa menjadi seseorang yang berbeda dari sebelumnya? Pertanyaan semacam itu memenuhi kepala saya saat menanti hari keberangkatan menuju bagian timur Indonesia. Melalui program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM, saya bersama 23 kawan bersiap untuk berbagi ilmu kami pada penduduk Ohoidertawun, Kei Kecil, Maluku Tenggara. Saya berkesempatan tinggal di daerah terpencil untuk mengabdi sekaligus vakansi. Wah, Rasanya campur aduk banget, antara senang dan khawatir. Tapi, ya, saya tetap semangat berangkat menuju Kei Kecil! Hehehe.

Kei Kecil merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Pada tahun 2015, pariwisata Kei Kecil belum semaju saat ini. Bahkan saat itu, pantai di Desa Ohoidertawun yang saya tinggali selama di Kei Kecil, belum menjadi destinasi wisata. Akses yang belum terlalu baik menjadi salah satu faktor lambatnya pergerakan pariwisata.

Dulu, saya melakukan banyak persiapan karena akan tinggal di daerah terpencil selama kurang lebih dua bulan. Saya membeli beraneka barang kebutuhan yang saya pikir hanya akan ditemukan di kota besar seperti pembalut dan lotion anti nyamuk. Eh, ternyata di Kei Kecil juga ada. Hahahaha.

Banyak lokasi di daerah Kei Kecil yang cukup kesulitan mendapatkan air bersih. Namun, di Desa Ohoidertawun, akses air bersih cukup mudah. Desa Ohoidertawun juga sudah memiliki aliran listrik. Dan selama saya di sana, saya ndak bisa online. Jangankan mau menggunakan internet, sinyal ponsel saja tidak ada.

Dengan fakta itu, saat berangkat menuju Kei Kecil, perasaan saya makin khawatir. Bisa ndak, ya, saya hidup di daerah terpencil begitu?

Sesampainya di lokasi, satu tim KKN tidak ditempatkan dalam satu rumah tinggal yang sama. Masing-masing dari kami diangkat menjadi anak asuh oleh satu keluarga. Kami memanggil mereka mama-papa piara. Saya tinggal bersama keluarga Woersok selama 55 hari. Keluarga Woersok terdiri dari Papa Dol, Mama Er, dan Adik Leni. 

Malam pertama saya masuk ke rumah, saya memperkenalkan diri dan langsung dipersilakan untuk istirahat karena saya tidak bisa menyembunyikan rasa lelah setelah melewati perjalanan jauh. Malam itu semuanya aman terkendali. Namun pagi harinya ketika sarapan…wah, super awkward. Mereka bisa berbicara Bahasa Indonesia namun dengan logat Maluku yang kadang bercampur dengan bahasa daerah sehingga saya masih sulit memahami apa yang mereka katakan. Seumur hidup, saya tidak pernah membayangkan akan mengalami hal yang sangat absurd begitu. Pagi itu adalah pelajaran pertama saya di Kei Kecil: komunikasi. 

Hari-hari berikutnya tidak lebih mudah. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu saya dan keluarga Woersok menjadi lebih akrab dan intim meski dengan komunikasi bahasa yang terbata-bata. Mereka sangat sangat sangat sangaaaaaaaaaaaaat baik. Mereka memperlakukan saya seolah saya memang bagian dari keluarga mereka. Saya bersyukur sekali dipertemukan dengan mereka. Dan tentu saja, saya ingin segera kembali ke Kei Kecil untuk menengok mereka

 

BELAJAR JATUH CINTA

Tinggal selama 55 hari di Kei Kecil ternyata membuat saya belajar jatuh cinta. Prosesnya rumit dan berbelit. Bermacam hal baru saya kumpulkan setiap harinya. Ada yang mudah diterima, ada yang membuat heran ternganga, ada juga yang sampai saat ini masih belum bisa saya terima sepenuhnya. Hingga hari ke-55 tiba, saya enggan untuk pulang. Eh, tapi sebenarnya apa, sih, yang membuat saya akhirnya jatuh cinta pada Kei Kecil?

1. Keramahan Penduduk

Bertemu satu orang baru saja sudah cukup membuat panik, apalagi bertemu ratusan orang baru. Wah! Kedatangan saya di Kei Kecil sempat membuat heboh penduduk Desa Ohoidertawun. Mereka berkumpul dan berdesakan ingin melihat kami, seolah saya dan kawan-kawan saya adalah rombongan sirkus dari kota. Kejadian itu membuat kami semakin panik menjalani hari-hari selanjutnya. Besoknya, saya mulai berkenalan dengan penduduk desa. Mereka ramah dan terbuka. Bahkan, kami pun akhirnya sangat akrab dan diterima dengan baik oleh mereka.

Desa Ohoidertawun cukup unik sebenarnya dibandingkan desa lain di Kei Kecil. Penduduk desa terbagi menjadi dua kelompok besar, satu kelompok muslim dan satu lagi kelompok kristiani. Kedua kelompok ini hidup damai di Desa Ohoidertawun. Ketika kerusuhan Ambon 1999 terjadi, kedua kelompok di Desa Ohoidertawun tidak saling berselisih. Mereka bersepakat untuk memisahkan diri sementara selama kerusuhan terjadi. Kelompok kristiani bersembunyi di hutan, dan kelompok muslim mengungsi ke pulau sebelah yang seluruh penduduknya beragama islam.

Beberapa bulan kemudian, setelah kerusuhan mereda seluruhnya, mereka kembali ke desa dan hidup berdampingan kembali seolah tidak ada kejadian apa-apa. Penduduk desa juga saling membantu untuk membersihkan rumah ibadah masing-masing. Di Desa Ohoidertawun, masjid dan gereja adalah milik semua orang. Barangkali, mereka adalah sebenar-benarnya guru tentang toleransi.

2. Keindahan Lokasi

Jarak rumah tinggal saya dengan pantai Ohoidertawun hanya sekitar 20 langkah saja. Dengan jarak sebegitu dekat, tentu setiap hari saya pasti main ke pantai. Kebetulan kami tinggal pada musim kemarau. Di bulan Juli hingga Agustus, penduduk menyebutnya sebagai musim barat. Pada musim ini, keindahan Kei Kecil sedang di puncaknya. Jika pagi hari tiba, air laut mulai surut jauh hingga 10 kilometer ke tengah laut dan menyisakan hamparan luas pasir putih. Saat siang hari, air laut mulai datang kembali namun baru setinggi mata kaki. Airnya jernih dan berkilau-kilau.

Sore akan tiba membawa senja yang aduhai cantiknya. Malam hari paling menakjubkan bagi saya. Menatap langit, saya melihat hamparan bintang. Rasanya sangat magis. Setiap malam saya akan menyempatkan berjalan-jalan di pinggir pantai untuk menatap langit. Meski dilakukan setiap malam, ketakjuban saya tidak pernah berkurang. Apalagi jika tiba bulan purnama. Tanpa listrik, desa sudah sangat terang seperti siang hari.

Kei Kecil seolah enggan menolak istirahat menunjukkan keindahannya. Bagaimana mungkin saya tidak jatuh cinta? Belum lagi lokasi-lokasi lain selain di Desa Ohoidertawun. Banyak sekali gereja-gereja megah seperti bangunan kerajaan. Ada tebing-tebing karang dengan ukiran-ukiran alami. Juga hutan-hutan berisi bebagai macam jenis flora dan fauna. Selama di Kei Kecil, saya tidak pernah merasa bosan disuguhi berbagai jenis pemandangan yang sedap di mata.

3. Suasana Tenang

Ternyata hampir dua bulan tanpa internet tidak semengerikan yang saya duga. Saya malah menjadi lebih produktif. Selain itu, Kei Kecil memberikan suasana nyaman dan tenang setiap hari yang tentu saja membuat saya jatuh cinta pada tempat ini. Suasana tenang dan nyaman ini tidak bisa saya temukan di kota-kota besar. Saya bisa menulis dan membaca dengan nikmat selama di Kei Kecil. Air laut di sini pun amat tenang dan tidak berombak seperti laut di Jawa. Saya kira, saya akan tidur dengan mendengar suara laut yang menderu-deru. Nyatanya, tiap malam saya hanya mendapati suara anjing yang kadang menggonggong atau suara napas saya sendiri.

Kei Kecil mungkin sangat cocok untuk kalian yang suka vakansi tapi mendamba keheningan. Jika kalian ingin kabur sejenak dari rutinitas yang padat, Kei Kecil jawabannya. Tinggal di Kei Kecil terbukti ampuh mengurangi stres saya. Ada satu kegiatan bersantai favorit saya selama di Kei Kecil yaitu tiduran di pinggir pantai saat sore mulai tiba. Kadang-kadang, bisa sambil minum kelapa muda yang langsung dipetik dari pohonnya. Oh, tentu bukan saya yang memanjat, tapi penduduk desa. Hehehe. Kegiatan satu itu, membuat saya serasa di surga, nikmat sekaliiiii.

Namun, meski mendapati suasana sepi cukup mengejutkan bagi saya, ada hal lain yang lebih membuat syok. Sejujurnya, yang paling mengagetkan itu adalah suhu di Kei Kecil. Siang hari terasa sangat panas, bahkan selama saya di sana, terhitung hanya dua kali saya menemui siang yang mendung. Panasnya sering membuat saya mengira saya akan berubah jadi ikan asin kering. Sedangkan saat malam tiba, Ya Tuhaaaan, dinginnya sampai membuat saya menggigil. Saking dinginnya, pakai selimut saja tidak cukup. Saya sering menumpuk handuk dan selendang untuk selimut tambahan.

MENYIMPAN KENANGAN, MERAWAT PENGALAMAN

#aplacetoremember

Kita tentu ingin mengingat banyak hal yang terjadi dalam hidup ini. Sayangnya, otak manusia memiliki keterbatasan dalam mengingat sesuatu. Menurut penelitian Paul King dari Universitas Berkeley, informasi yang masuk ke dalam otak manusia selama hidup terlalu banyak untuk diingat. Oleh karena itu, kita membutuhkan bantuan-bantuan tertentu untuk mengingat sesuatu.

Salah satu cara paling efektif untuk mengingat adalah dengan menggunakan foto atau video. Melihat foto akan memacu otak kita untuk bekerja mengingat kembali kejadian yang berkaitan dengan foto tersebut. Setiap saya pergi ke suatu tempat, saya pasti tidak akan lupa mengambil foto sebagai arsip ingatan.

Bagi saya, selembar foto dapat menyimpan kenangan sekaligus merawat pengalaman. Selain kesepian, ketakutan untuk menjadi tua itu, ya, pikun. Untuk mengantisipasinya, saya menyimpan banyak sekali foto tentang hidup saya. Menyimpan kenangan itu penting sekali karena tidak akan ada momen yang bisa diulang lagi.

Merawat pengalaman melalui foto tak kalah pentingnya. Dengan merawat segala jenis pengalaman, saya akan bisa terus belajar menjadi lebih bijaksana setiap harinya. Mencari pengalaman memang gampang, tapi merawatnya agar bisa terus berpengaruh pada keseharian kita adalah yang paling sulit. Maka, menyimpan foto merupakan salah satu usaha saya untuk merawat pengalaman selama di Kei Kecil.

Cukup dengan selembar foto pantai Ohoidertawun, saya kadang merasa mendengar kembali suara Mama Er yang selalu menyuruh saya untuk banyak makan. Dulu saya kira, asal sudah punya foto meski dengan kualitas buruk pun sudah cukup. Tapi kini, saya mulai sadar bahwa kualitas foto sangat penting. Tentunya kita ingin punya foto yang bagus dan bisa bertahan lama, kan? Hehehe.

Jika saya benar bisa kembali ke Kei Kecil, saya berharap bisa membawa ponsel yang praktis namun memiliki spesifikasi yang bagus. Huawei Nova 3i adalah pilihan yang sangat tepat. Berbagai fitur menarik serta desain yang elegan akan melengkapi perjalanan saya ke Kei Kecil, untuk kedua kalinya.

QUAD CAMERA AI

Dengan empat kamera AI 24 MP + 2 MP di bagian depan dan 16 MP + 2 MP di belakang, Fitur Huawei Nova 3i memastikan hasil foto yang mengesankan dengan kejernihan yang tinggi dan memiliki efek bokeh.

128GB Storage

Ponsel pintar termurah di kelasnya yang sudah dilengkapi dengan kapasitas penyimpanan luar biasa sebesar 128GB.

POWERFUL PERFORMANCE

Huawei Nova 3i dilengkapi dengan chipset Kirin 710 berteknologi 12 nm. Huawei Nova 3i bekerja secara responsif dan halus. Memiliki fitur foto AI dan pengalaman bermain yang imersif di ponsel Android dengan teknologi ISP independen dan juga DSP.

premium design

Ponsel berbingkai metal dengan desain menawan, Dilengkapi juga dengan layar FHD berukuran 6,3 inch. Memberikan kesan premium dan elegan.

PENYESALAN MENDALAM

Ada banyak hal spektakuler yang membuat saya heran dan takjub selama tinggal di Kei Kecil. Saya sempat makan kuskus, ikan pari, bahkan cacing laut. Saya mengikuti upacara kemerdekaan di tengah laut. Saya menyaksikan negosiasi dua kaum secara adat. Saya menyelam di laut untuk pertama kalinya. Saya mendaki bukit-bukit kecil, melewati hutan sagu, dan gunung kapur. Sayangnya, saya tidak punya dokumentasi. Hingga kini, saya masih menyimpan penyesalan yang mendalam karena tidak punya foto-foto pengalaman yang lengkap.

Saat itu, ponsel yang saya gunakan tidak terlalu bagus sehingga banyak momen yang tidak sempat terabadikan lewat foto. Ya gimana dong, pas mau ambil foto…eh, ponsel mati karena baterainya cepat habis. Udah difoto, malah jadinya gelap dan buram karena kameranya kurang bagus. Duh, nasib!

Penyesalan di masa lalu itu cuma bisa ditebus dengan satu cara: kembali berkunjung lagi ke Kei Kecil dengan bekal ponsel Huawei Nova 3i. Dengan setumpuk fitur yang menarik serta canggih, ponsel Huawei Nova 3i memiliki harga yang masih terjangkau yaitu sekitar 4juta rupiah saja, lho!

TERSIKSA OLEH RASA RINDU

Menulis artikel blog mengenai Kei Kecil membuat saya menyadari bahwa saya rindu setengah mati pada Kei Kecil. Saya rindu dengan pantai, bukit, pohon lemon sebelah rumah, keluarga Woersok, dan banyak hal lain di Kei Kecil. Saya ingin pulang. Bagi saya, Kei Kecil adalah rumah. Saya akan segera kembali ke Kei Kecil untuk membebaskan siksaan rasa rindu ini. Semoga saya bisa kembali ke Kei Kecil dengan membawa Huawei Nova 3i, ya.

Tiba-tiba saja, saat saya mengira tulisan ini sudah selesai, saya teringat sesatu. Saya ingat pertanyaan saya saat sebelum berangkat ke Kei Kecil dulu. Benarkah dengan sebuah perjalanan kita bisa menjadi seseorang yang berbeda dari sebelumnya? Tentu saja iya. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, perjalanan akan mengubah diri kita. Pemahaman baru akan muncul. Pemakluman akan sesuatu menjadi lebih luas. Toleransi bertambah berkali lipat.

Saya kira, menjadi seseorang yang berbeda dari sebelumnya bukanlah hal buruk. Melakukan perjalanan, kemudian pulang dengan oleh-oleh perubahan diri adalah penanda bahwa kita masih hidup. Jadi, jangan berhenti berpetualang, ya!

Salam,

Ucig W.

Disclaimer

Sumber Referensi

Copyright

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway di blog nurulnoe.com

1. https://tirto.id/betapa-misteriusnya-otak-dan-ingatan-manusia-cnvT

2. https://consumer.huawei.com/id/phones/nova3i/

3. http://nurasrihakimah.web.unej.ac.id/2015/12/16/analisis-konflik-agama-di-ambon-tahun-1999/ 

1. Foto: Ucig

2. Ilustrasi: Ucig, Huawei

3. Teks: Ucig

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.